Senin, 01 Februari 2016

MESOLITIKUM

      Pada zaman kehidupan manusia purba tidak terlalu berbeda dengan kehidupan manusia purba pada masa-masa sebelumnya. Mereka memenuhi kebutuhan sehari – hari dengan berburu dan mengumpulkan beberapa makanan. Namun, pada masa ini manusia lebih cerdas dibandingkan dengan para pendahulunya. Mereka mulai menetap dan membangun tempat – tempat tinggal yang semi permanen di tepi – tepi pantai, dan di dalam goa goa, sehingga tidak heran di tempat tersebut banyak ditemukan peninggalan – peninggalan pra sejarah. Manusia purba yang hidup pada zaman mesolitikum sudah mempunyai kemampuan membuat kerajinan gerabah dari tanah liat.
Selain itu, mereka juga sudah mulai bercocok tanam meskipun dengan cara yang masih sederhana. Manusia purba pada masa ini masih menggunakan alat – alat yang diambil dari tulang dan tanduk hewan untuk digunakan dalam kehidupan sehari – hari seperti pada masa mengumpulkan makanan tingkat awal atau paleolitikum.
Alat – alat tersebut banyak ditemukan di pulau sumatra, pulau jawa, pulau bali, dan nusa tenggara bagian timur. Barang-barang hasil budaya mesolitikum yang di temukan, diantaranya adalah kapak genggam Sumatra (Sumatralith pebble culture), flake (flakes culture) di daerah Toala, alat dari bahan tulang (bone culture) di Sampung.

CIRI – CIRI ZAMAN MESOLITIKUM

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat kita ketahui bahwa zaman mezolitikum memiliki ciri – ciri sebagai berikut ini:
1. Manusia di zaman ini sudah tidak lagi nomaden atau menetap di gua, maupun di pantai.
2. Manusia zaman ini sudah mengumpulkan makanan dan bercocok tanam.
3. Manusia zaman ini sudah bisa membuat kerajinan dari gerabah.

MANUSIA PURBA PADA ZAMAN MESOLITIKUM

Manusia purba pada zaman mezolitikum memiliki kecerdasan yang lebih dibandingkan dengan manusia purba pada zaman sebelumnya. Mereka sudah memiliki kebudayaan yang cukup maju dan tatanan sosial yang lebih tertata rapih. Salah satu jenis manusia purba yang hidup pada masa ini adalah Abris sous roche, yaitu manusia purba mendiami gua-gua di tebing pantai. Ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil mereka bersama dengan banyaknya tumpukan sampah dapur yang menggunung tinggi hingga mencapai 7 meter. Tumpukan fosil ini di sebut juga dengan kjokkenmoddinger.

HASIL KEBUDAYAAN ZAMAN MESOLITIKUM

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa Zaman Mesolitikum menghasilkan beberapa kebudayaan, di antaranya adalah:

1. Kjokkenmoddinger (Sampah Dapur)
Istilah Kjokkenmoddinger diambil dari bahasa Denmark, yaitu kjokken yang berarti dapur dan modding yang berarti sampah. Jadi, Kjokkenmoddinger adalah sampah dapur. Dalam pengertian yang sebenarnya Kjokkenmoddinger adalah fosil yang berupa timbunan atau tumpukan kulit kerang dan siput sehingga mencapai ketinggian ± 7 meter. Fosil ini ditemukan di sepanjang pantai timur Sumatera, yakni antara daerah Langsa hingga Medan. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa manusia purba pada zaman ini sudah mulai menetap.
Pada tahun 1925 Dr. P.V. Van Stein Callenfels melakukan penelitian pada Kjokkenmoddinger. Kemudian, dia menemukan kapak genggam yang berbeda dengan kapak genggam pada zaman phaleotikum (chopper).
2. Kapak genggam Sumatera (Sumateralith)
Pada tahun 1925, Dr. P.V. Van Stein Callenfels melakukan penelitian di fosil bukit kerang dan menemukan kapak genggam. Temuan tersebut dinamakan sesuai dengan lokasi penemuannya yaitu pebble/kapak genggam Sumatra (Sumatralith). Kapak ini dibuat dari batu kali yang dipecah – pecah hingga menjadi tajam ujungnya.
3. Hachecourt (kapak pendek)
Selain pebble, Dr. P.V. Van Stein juga menemukan kapak pendek (Hachecourt) di dalam bukit kerang. Kapak ini memiliki bentuk yang lebih pendek (setengah lingkaran) sehingga disebut juga dengan hachecourt/kapak pendek.
4. Pipisan
Di dalam bukit kerang tersebut ternyata ditemukan pipisan, yaitu batu – batu penggiling beserta dengan landasannya. Batu pipisan ini digunakan untuk menggiling makanan dan juga dipergunakan sebagai penghalus cat merah yang berasal dari tanah merah. Cat merah ini diperkirakan sebagai alat untuk keperluan keagamaan dan juga untuk ilmu sihir

NEOLITHIKUM

      Ada dikatakan bahwa neolithikum itu adalah suatu revolusi yang sangat besar dalam peradaban manusia. Perubahan besar ini ditandai dengan berubahnya peradaban penghidupan food-gathering menjadi foodproducing. Pada saat orang sudah mengenal bercocok tanam dan berternak. Pertanian yang mereka selenggarakan mula-mula bersifat primitif dan hanya dilakukan di tanah-tanah kering saja. Pohon-pohon dari beberapa bagian hutan di kelupak kulitnya dan kemudian dibakar. Tanah-tanah yang baru dibuka untuk pertanian semacam itu untuk beberapa kali berturut-turut ditanami dan sesudah itu ditinggalkan.


Orang-orang Indonesia zaman neolithikum membentuk masyarakat-masyarakat dengan pondok-pondok mereka berbentuk persegi siku-siku dan didirikan atas tiang-tiang kayu, dinding-dindingnya diberi hiasan dekoratif yang indah-indah, Walaupun alat-alat mereka masih dibuat daripada batu, tetapi alat-alat itu dibuat dengan halus, bahkan juga sudah dipoles pada kedua belah mukanya.

B. ALAT-ALAT ZAMAN NEOLITHIKUM
Pada zaman neolithikum ini alat-alat terbuat dari batu yang sudah dihaluskan.


1. Pahat Segi Panjang
Daerah asal kebudayaan pahat segi panjang ini meliputi Tiongkok Tengah dan Selatan, daerah Hindia Belakang sampai ke daerah sungai gangga di India, selanjutnya sebagian besar dari Indonesia, kepulauan Philipina, Formosa, kepulauan Kuril dan Jepang.

2. Kapak Persegi

Asal-usul penyebaran kapak persegi melalui suatu migrasi bangsa Asia ke Indonesia. Nama kapak persegi diberikan oleh Van Heine Heldern atas dasar penampang lintangnya yang berbentuk persegi panjang atau trapesium. Penampang kapak persegi tersedia dalam berbagai ukuran, ada yang besar dan kecil. Yang ukuran besar lazim disebut dengan beliung dan fungsinya sebagai cangkul/pacul. Sedangkan yang ukuran kecil disebut dengan Tarah/Tatah dan fungsinya sebagai alat pahat/alat untuk mengerjakan kayu sebagaimana lazimnya pahat.

Bahan untuk membuat kapak tersebut selain dari batu biasa, juga dibuat dari batu api/chalcedon. Kemungkinan besar kapak yang terbuat dari calsedon hanya dipergunakan sebagai alat upacara keagamaan, azimat atau tanda kebesaran. Kapak jenis ini ditemukan di daerahi Sumatera, Jawa, bali, Nusatenggara, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan.

3. Kapak Lonjong

Sebagian besar kapak lonjong dibuat dari batu kali, dan warnanya kehitam-hitaman. Bentuk keseluruhan dari kapak tersebut adalah bulat telur dengan ujungnya yang lancip menjadi tempat tangkainya, sedangkan ujung lainnya diasah hingga tajam. Untuk itu bentuk keseluruhan permukaan kapak lonjong sudah diasah halus.

Ukuran yang dimiliki kapak lonjong yang besar lazim disebut dengan Walzenbeil dan yang kecil disebut dengan Kleinbeil, sedangkan fungsi kapak lonjong sama dengan kapak persegi. Daerah penyebaran kapak lonjong adalah Minahasa, Gerong, Seram, Leti, Tanimbar dan Irian. Dari Irian kapak lonjong tersebar meluas sampai di Kepulauan Melanesia, sehingga para arkeolog menyebutkan istilah lain dari kapak lonjong dengan sebutan Neolithikum Papua.
4. Kapak Bahu
Kapak jenis ini hampir sama seperti kapak persegi, hanya saja di bagian yang diikatkan pada tangkainya diberi leher. Sehingga menyerupai bentuk botol yang persegi. Daerah kebudayaan kapak bahu ini meluas dari Jepang, Formosa, Filipina terus ke barat sampai sungai Gangga. Tetapi anehnya batas selatannya adalah bagian tengah Malaysia Barat. Dengan kata lain di sebelah Selatan batas ini tidak ditemukan kapak bahu, jadi neolithikum Indonesia tidak mengenalnya, meskipun juga ada beberapa buah ditemukan yaitu di Minahasa.



5. Perhiasan (gelang dan kalung dari batu indah)
Jenis perhiasan ini banyak di temukan di wilayah jawa terutama gelang-gelang dari batu indah dalam jumlah besar walaupun banyak juga yang belum selesai pembuatannya. Bahan utama untuk membuat benda ini di bor dengan gurdi kayu dan sebagai alat abrasi (pengikis) menggunakan pasir. Selain gelang ditemukan juga alat-alat perhisasan lainnya seperti kalung yang dibuat dari batu indah pula. Untuk kalung ini dipergunakan juga batu-batu yang dicat atau batu-batu akik.

6. Pakaian dari kulit kayu
Pada zaman ini mereka telah dapat membuat pakaiannya dari kulit kayu yang sederhana yang telah di perhalus. Pekerjaan membuat pakaian ini merupakan pekerjaan kaum perempuan. Pekerjaan tersebut disertai pula berbagai larangan atau pantangan yang harus di taati. Sebagai contoh di Kalimantan dan Sulawesi Selatan dan beberapa tempat lainnya ditemukan alat pemukul kulit kayu. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang zaman neolithikum sudah berpakaian.

7. Tembikar (Periuk belanga)

Bekas-bekas yang pertama ditemukan tentang adanya barang-barang tembikar atau periuk belanga terdapat di lapisan teratas dari bukit-bukit kerang di Sumatra, tetapi yang ditemukan hanya berupa pecahan-pecahan yang sangat kecil. Walaupun bentuknya hanya berupa pecahan-pecahan kecil tetapi sudah dihiasi gambar-gambar. Di Melolo, Sumba banyak ditemukan periuk belanga yang ternyata berisi tulang belulang manusia

MEGALITIKUM

          Megalitikum berasal dari kata mega yang berarti besar, dan lithos yang berarti batu. Zaman Megalitikum biasa disebut dengan zaman batu besar,karena pada zaman ini manusia sudah dapat membuat dan meningkatkankebudayaan yang terbuat dan batu-batu besar. kebudayaan ini berkembang dari zaman Neolitikum sampai zamanPerunggu. Pada zaman ini manusia sudah mengenal kepercayaan. Walaupunkepercayaan mereka masih dalam tingkat awal, yaitu kepercayaanterhadap roh nenek moyang, Kepercayaan ini muncul karena pengetahuanmanusia sudah mulai meningkat.


2.KEBUDAYAAN MEGALITIKUM
Peninggalan kebudayaan megalithikum ternyata masih dapat Anda lihat sampai sekarang, karena pada beberapa suku-suku bangsa di Indonesia masih memanfaatkan kebudayaan megalithikum tersebut. Contohnya seperti suku Nias.

Adapun beberapa hasil-hasil kebudayaan pada zaman megalitikum adalah sebagai berikut:
Punden berundak : terbuat dari batu untuk meletakan sesaji
dolmen : meja batu yang digunakan untuk meletakan sesaji
waruga : kubur batu yang berbentuk kubus
kubur batu : tempat menyimpan mayat
Sarkofagus : kubur batu yang berbentuk lesung




1. Menhir
Menhir adalah bangunan yang berupa tugu batu yang didirikan untuk upacara menghormati roh nenek moyang, sehingga bentuk menhir ada yang berdiri tunggal dan ada yang berkelompok serta ada pula yang dibuat bersama bangunan lain yaitu seperti punden berundak-undak. Lokasi tempat ditemukannya menhir di Indonesia adalah Pasemah (Sumatera Selatan), Sulawesi Tengah dan Kalimantan. Untuk mengetahui bentuk-bentuk menhir,

Bangunan menhir yang dibuat oleh masyarakat prasejarah tidak berpedoman kepada satu bentuk saja karena bangunan menhir ditujukan untuk penghormatan terhadap roh nenek moyang. Lokasi tempat ditemukannya menhir di Indonesia adalah Pasemah (Sumatera Selatan), Sulawesi Tengah dan Kalimantan. Untuk mengetahui bentuk-bentuk menhir, maka simaklah gambar-gambar berikut ini.

Bangunan menhir yang dibuat oleh masyarakat prasejarah tidak berpedoman kepada satu bentuk saja karena bangunan menhir ditujukan untuk penghormatan terhadap roh nenek moyang. Selain menhir terdapat bangunan yang lain bentuknya, tetapi fungsinya sama yaitu sebagai punden berundak-undak

2. Punden Berundak-undak

Punden berundak-undak adalah bangunan dari batu yang bertingkat-tingkat dan fungsinya sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal.
Bangunan tersebut dianggap sebagai bangunan yang suci, dan lokasi tempat penemuannya adalah Lebak Sibedug/Banten Selatan dan Lereng Bukit Hyang di Jawa Timur.
  
3.Dolmen

Dolmen merupakan meja dari batu yang berfungsi sebagai tempat meletakkan saji-sajian untuk pemujaan. Adakalanya di bawah dolmen dipakai untuk meletakkan mayat, agar mayat tersebut tidak dapat dimakan oleh binatang buas maka kaki mejanya diperbanyak sampai mayat tertutup rapat oleh batu.
Dengan demikian dolmen yang berfungsi sebagai tempat menyimpan mayat disebut dengan kuburan batu. Lokasi penemuan dolmen antara lain Cupari Kuningan / Jawa Barat, Bondowoso / Jawa Timur, Merawan, Jember / Jatim, Pasemah / Sumatera, dan NTT.


4.Waruga

Waruga adalah peti kubur peninggalan budaya Minahasa pada zaman megalitikum. Didalam peti pubur batu ini akan ditemukan berbagai macam jenis benda antara lain berupa tulang- tulang manusia, gigi manuisa, periuk tanah liat, benda- benda logam, pedang, tombak, manik- manik, gelang perunggu, piring dan lain- lain. Dari jumlah gigi yang pernah ditemukan didalam waruga, diduga peti kubur ini adalah merupakan wadah kubur untuk beberapa individu juga atau waruga bisa juga dijadikan kubur keluarga (common tombs) atau kubur komunal. Benda- benda periuk, perunggu, piring, manik- manik serta benda lain sengaja disertakan sebagai bekal kubur bagi orang yang akan meninggal.


5.Peti kubur

Peti kubur adalah peti mayat yang terbuat dari batu-batu besar. Kubur batu dibuat dari lempengan/papan batu yang disusun persegi empat berbentuk peti mayat yang dilengkapi dengan alas dan bidang atasnya juga berasal dari papan batu.

Daerah penemuan peti kubur adalah Cepari Kuningan, Cirebon (Jawa Barat), Wonosari (Yogyakarta) dan Cepu (Jawa Timur). Di dalam kubur batu tersebut juga ditemukan rangka manusia yang sudah rusak, alat-alat perunggu dan besi serta manik-manik. Dari penjelasan tentang peti kubur, tentu Anda dapat mengetahui persamaan antara peti kubur dengan sarkofagus, dimana keduanya merupakan tempat menyimpan mayat yang disertai bekal kuburnya

PALEOLITHIKUM

         Zaman batu adalah suatu periode ketika peralatan manusia secara dominan terbut dari batu walaupun ada pula alat-alat penunjang hidup manusia yang terbuat dari kayu ataupun bambu. Namun alat-alat yang terbuat dari kayu atau tulang tersebut tidak meninggalkan bekas sama sekali. Hal ini disebabkan karena bahan-bahan tersebut tidak tahan lama. Dalam zaman ini alat-alat yang dihasilkan masih sangat kasar (sederhana) karena hanya sekadar memenuhi kebutuhan hidup saja. Zaman batu tua diperkirakan berlangsung kira-kira 600.000 tahun yang lalu, yaitu selama masa pleistosen (diluvium). Pada zaman paleolithikum ini, alat-alat yang mereka hasilkan masih sangat kasar.



Paleolitikum atau zaman batu tua disebut demikian sebab alat-alat batu buatan manusia masih dikerjakan secara kasar, tidak diasah atau dipolis. Apabila dilihat dari sudut mata pencariannya periode ini disebut masa berburu dan meramu makanan tingkat sederhana. Manusia pendukung zaman ini adalah Pithecantropus Erectus, Homo Wajakensis, Meganthropus Paleojavanicus dan Homo Soloensis. Fosil-fosil ini ditemukan di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo. Mereka memiliki kebudayaan Pacitan dan Ngandong. Kebudayaan Pacitan pada tahun 1935, Von Koenigswald menemukan alat-alat batu dan kapak genggam di daerah Pacitan. Cara kerjanya digenggam dengan tangan. Kapak ini dikerjaan dengan cara masih sangat kasar. Para ahli menyebut alat pada zaman Paleolithikum dengan nama chopper. Alat ini ditemukan di Lapisan Trinil. Selain di Pacitan, alat-alat dari zaman Paleplithikum ini temukan di daerah Progo dan Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), dan Lahat (Sumatera Selatan).


A. CIRI-CIRI ZAMAN PALEOLITHIKUM
1. Jenis Manusia
Berdasarkan penemuan fosil manusia purba, jenis manusia purba hidup pada zaman Paleolitikum adalah Pithecanthropus Erectus, Homo Wajakensis, Meganthropus paleojavanicus, dan Homo Soliensis. Fosil ini ditemukan di aliran sungai Bengawan Solo.

2. Kebudayaan
Berdasarkan daerah penemuannya maka alat-alat kebudayaan Paleolithikum tersebut dapat dikelompokan menjadi kebudayaan pacitan dan kebudayaan ngandong.

a. Kebudayaan Pacitan
Pada tahun 1935, von Koenigswald menemukan alat batu dan kapak genggam di daerah Pacitan. Kapak genggam itu berbentuk kapak tetapi tidak bertangkai. Kapak ini masih dikerjakan dengan sangat kasar dan belum dihaluskan. Para ahli menyebutkan bahwa kapak itu adalah kapak penetak. Selain di Pacitan alat-alat banyak ditemukan di Progo dan Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), dan Lahat (Sumatera Utara)

b. Kebudayaan Ngandong
Para ahli berhasil menemukan alat-alat dari tulang, flakes, alat penusuk dari tanduk rusa dan ujung tombak bergigi di daerah Ngandong dan Sidoarjo. Selain itu di dekat Sangiran ditemukan alat sangat kecil dari betuan yang amat indah. Alat ini dinamakan Serbih Pilah, dan banyak ditemukan di Cabbenge (Sulawesi Selatan) yang terbuat dari batu-batu indah seperti kalsedon. Kebudayaan Ngandong juga didukung oleh penemuan lukisan pada dinding goa seperti lukisan tapak tangan berwarna merah dan babi hutan ditemukan di Goa Leang Pattae (Sulawesi Selatan)

Zaman Paleolithikum ditandai dengan kebudayan manusia yang masih sangat sederhana. Ciri-ciri kehidupan manusia pada zaman Paleolithikum, yakni:
1. Hidup berpindah-pindah (Nomaden)
2. Berburu (Food Gathering)
3. Menangkap ikan


B. ALAT-ALAT ZAMAN PALEOLITHIKUM
Pada zaman ini alat-alat terbuat dari batu yang masih kasar dan belum dihaluskan. Contoh alat-alat tersebut adalah:

1. Kapak Genggam

Kapak genggam banyak ditemukan di daerah Pacitan. Alat ini biasanya disebut "chopper" (alat penetak/pemotong)
Alat ini dinamakan kapak genggam karena alat tersebut serupa dengan kapak, tetapi tidak bertangkai dan cara mempergunakannya dengancara menggenggam. Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara memangkas salah satu sisi batu sampai menajam dan sisi lainnya dibiarkan apa adanyasebagai tempat menggenggam. Kapak genggam berfungsi menggali umbi, memotong, dan menguliti binatang.



2. Kapak Perimbas

Kapak perimbas berpungsi untuk merimbas kayu, memahat tulang dan sebagai senjata. Manusia kebudayan Pacitan adalah jenis Pithecanthropus. Alat ini juga ditemukan di Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), lahat, (Sumatra selatan), dan Goa Choukoutieen (Beijing). Alat ini paling banyak ditemukan di daerah Pacitan, Jawa Tengah sehingga oleh Ralp Von Koenigswald disebut kebudayan pacitan

3. Alat-alat dari tulang binatang atau tanduk rusa

Salah satu alat peninggalan zaman paleolithikum yaitu alat dari tulang binatang. Alat-alat dari tulang ini termasuk hasil kebudayaan Ngandong. Kebanyakan alat dari tulang ini berupa alat penusuk (belati) dan ujung tombak bergerigi. Fungsi dari alat ini adalah untuk mengorek ubi dan keladi dari dalam tanah. Selain itu alat ini juga biasa digunakan sebagai alat untuk menangkap ikan

4. Flakes

Flakes yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu Chalcedon, yang dapat digunakan untuk mengupas makanan. Flakes termasuk hasil kebudayaan Ngandong sama seperti alat-alat dari tulang binatang. Kegunaan alat-alat ini pada umumnya untuk berburu, menangkap ikan, mengumpulkan ubi dan buah-buahan.


1. Kebudayaan Pebble (Pebble Culture)
a.       Kjokkenmoddinger (Sampah Dapur)

Kjokkenmoddinger adalah istilah yang berasal dari bahasa Denmark yaitu kjokken artinya dapur dan modding artinya sampah jadi Kjokkenmoddinger arti sebenarnya adalah sampah dapur. Dalam kenyataan Kjokkenmoddinger adalah timbunan atau tumpukan kulit kerang dan siput yang mencapai ketinggian ± 7 meter dan sudah membatu atau menjadi fosil. Kjokkenmoddinger ditemukan disepanjang pantai timur Sumatera yakni antara Langsa dan Medan. Dari bekas-bekas penemuan tersebut menunjukkan bahwa manusia purba yang hidup pada zaman ini sudah menetap. Tahun 1925 Dr. P.V. Van Stein Callenfels melakukan penelitian di bukit kerang tersebut dan hasilnya banyak menemukan kapak genggam yang ternyata berbeda dengan chopper (kapak genggam Palaeolithikum).

b.      Pebble (kapak genggam Sumatera = Sumateralith)

Tahun 1925, Dr. P.V. Van Stein Callenfels melakukan penelitian di bukit kerang tersebut dan hasilnya menemukan kapak genggam. Kapak genggam yang ditemukan di dalam bukit kerang tersebut dinamakan dengan pebble/kapak genggam Sumatra (Sumatralith) sesuai dengan lokasi penemuannya yaitu dipulau Sumatra. Bahan-bahan untuk membuat kapak tersebut berasal batu kali yang dipecah-pecah.

c.       Hachecourt (kapak pendek)
Selain pebble yang diketemukan dalam bukit kerang, juga ditemukan sejenis kapak tetapi bentuknya pendek (setengah lingkaran) yang disebut dengan hachecourt/kapak pendek.

d.      Pipisan

Selain kapak-kapak yang ditemukan dalam bukit kerang, juga ditemukan pipisan (batu-batu penggiling beserta landasannya). Batu pipisan selain dipergunakan untuk menggiling makanan juga dipergunakan untuk menghaluskan cat merah. Bahan cat merah berasal dari tanah merah. Cat merah diperkirakan digunakan untuk keperluan religius dan untuk ilmu sihir.


CONVERSE GRACIAS

Pengalaman terburuk dan terbahagia

Edisi sejarah Indonesia

Cerita sederhana dari santri pondok pesantren.
Angkatan tujuh, Converse Gracias.


Angkatan dengan berjuta cerita. Karena kami terkenal dengan kenakalan kami, dan labeling angkatan ternakal sangat melekat pada angkatan kami. Lumrah bagi kami bila diceramahi guru-guru tentang masalah pelanggaran, senioritas, asrama, dan lainnya. Tetapi kami tahu mereka masih ada di sisi kami, masih menyayangi kami, hingga “hari-hari sulit” itu tiba.
Sangat terekam dalam ingatanku. 18 November 2014. Kami menyebutnya Tragedi18.
Pagi itu kami memulai hari dengan kedamaian, memulai sekolah dengan membereskan kamar, sarapan, berangkat sekolah, seperti hari-hari biasanya. Saat pelajaran usai istirahat pertama, ada salah seorang teman kami mengatakan jam terakhir pembelajaran ditiadakan. Tentu saja kami bersorak riang mengetahui hal tersebut, tetapi ada sesuatu yang menjanggal, karena pemberitahuannya sangat mendadak dan biasanya tidak secuma-cuma itu sekolah memberikan “jamkos” masal di hari KBM normal. Kami diperintah untuk menuju hall di jam terakhir nanti. Kami mengira akan diadakan briefing rekreasi atau praUN, tetapi kenyataannya berbeda.
Kami bingung. Hampir semua guru hadir, termasuk bapak kepala sekolah, Ustadz Azis. Guru kedisiplinan, kesiswaan, dan guru psikologi memulai pembicaraan. Arah pembicaraan dimulai dengan ungkapan kekecewaan inilah, itulah, dan akhirnya masuk ke pembicaraan utama.
“Ustadzah kecewa, ternyata selama ini hati kalian yang keras dan tidak mau menerima nasihat itu karena bacaan dan gambar-gambar yang tidak layak ini. Kalian itu masih SMP, nak………” kata Bu Yuni sambil menunjukkan komik dengan kategori “dewasa” yang ditemukan usatadzah asrama saat kamar kami digeledah.
Tumpukan novel-novel dengan genre romansa mulai diletakkan di hadapan kami. Kami merasa seperti orang-orang paling hina. Novel-novel dan komik-komik itu mulai deiperlihatkan kepada  guru-guru lain dan mulai dirobek-robek di hadapan kami seangkatan. Ya, novel-novel yang tidak jelas kehalalannya berada di pondok kami.
Kemarahan guru-guru mulai memuncak saat salah seorang ustadzah asrama menceritakan sebab utama kami dikumpulkan di hall, sebenarnya bukan karena novel-novel dan komik-komik itu.
Beliau bercerita. Saat mengecek kebersihan kamar, beliau iseng memeriksa kasur dan barang-barang di bawah bantal. Di salah satu kasur, terdapat catatan lusuh dibalik bantal. Beliau mulai membacanya dan hatinya mulai meringis. Tidak sepantasnya anak seumuran kami menulis hal semacam itu. “Fan fiction” yang kategorinya 17+, dan salah satu teman kami menceritakan detailnya. Beliau menekankan bahwa kertasnya sudah lusuh, dan kemungkinan besar itu sudah berpindah tangan ke banyak orang dan tanggal yang tertera menunjukan tulisannya sudah ditulis beberapa bulan yang lalu.
Memang hampir semua orang membacanya, termasuk saya sendiri. Dan kami tidak punya pemikiran tulisan itu akan menjadi seperti ini. Saat itu hamper semua orang yang ada di hall menangis, termasuk guru-guru dan kepala sekolahku. Beliau mulai berbicara dan mengatakan satu hal yang terngiang hingga sekarang.
“Saya belum pernah menangis di hadapan manusia banyak, kecuali saat ini, nak……..”
Kami merasa seakan-akan kami adalah makhluk terkotor di dunia. Memang, membaca bacaan yang tidak sesuai umur bukanlah adab penuntut ilmu apalagi bagi santri. Dan akhirnya guru-guru telah membuat keputusan. Mendiamkan kami sampai kami berubah menjadi lebih baik. Diasingkan dri sekolah. Bagi mereka, sudah segala cara mereka upayakan agar kami menjadi anak-anak baik, dan ini cara terakhir yang bias mereka lakukan. Mengabaikan kami.
Sore hari. Tidak ada guru yang mau kami salami. Biasanya kami kabur memutar jalan agar menghindari salim ke guru dan mendapat “omelan” yang menjengkelkan. Tapi sekarang, tak ada guru yang menerima jabatan tangan kami. Bila ada, wajahnya tak sedikitpun melihat kea rah kami. Baru tadi siang kami menangis-nangis tanpa henti di hall, sorenya sudah tak ada yang memedulikan kami. Kami benar-benar tak punya siapa-siapa lagi di pihak kami. Sendiri. Seangkatan.
Malam harinya, kami melakukan evaluasi bersama. Mendiskusikan apa yang harus dilakukan ke depannya. Mulai dari mengadakan program tahajjud masal, keluar asrama di pagi hari 10menit sebelum angkatan lainnya, tidak telat shoat ke masjid, dan..
“Rek, mulai malem ini, aku sama Jesse mau ngumpulin novel, buku, majalah semuanya, syar’I gak syar’i. ntar yang udah jelas gak syar’I kita bakar di lapangan. Aku udah bujuk Pak Shuu buat bantuin proses bakar-bakarnya. Jujur ya, rek. Jangan sampe ada bacaan yang tersisa di asrama,” kata Ati.
Besok paginya, guru-guru tidak hadir di kegiatan KBM. Ada guru yang mengajar, tetapi tidak salam, tidak mengajar, hanya duduk, dan beranjak saat jam pelajaran habis. Dan saat pelajaran Pak Shuu, wali kelas 8B, wali kelas saya, kami kembali menangis lebih dari yang kemarin. Pak Shuu guru yang paling kami sayangi di angkatan. Ungkapan kekecewaan beliau terlalu menyakitkan untuk didengar. Apalagi saat beliau menyebut nama kami satu-satu, mengomentari kami dengan majas “ironi”, semuanya terasa berat untuk didengar. Bahkan teman kami yang paling cuek bebek pun menangis mendengarnya. Entahlah. Setiap saat kami menangis.
Pembakaran buku. Herannya, masih saja banyak anak “otaku” yang tidak ikhlas komik mereka dibakar. Ya, kami tahu mereka sangat berkorban demi komik-komik itu. Menabung, berhemat, semua demi itu. Tetapi beginilah keadaannya. Kami harus merelakan semuanya. Poster-poster idola, novel, ff, semuanya hangus di malam itu. Kami mulai menenangkan sebagian lain yang belum rela barang-barangnya hangus seketika. Tapi itulah pengorbanan demi angkatan. Keluarga kedua kita.
Hari-hari itu begitu terasa sulit. Lebih sulit dibandingkan saat kami pertama masuk pondok ini. Lebih sulit daripada berpisah pertama kali dengan orang tua. Sulit sekali rasanya untuk pergi ke sekolah, menganggap tak aka nada guru yang menyambut. Tetapi jika kami tidak pergi sekolah, bukankah guru-guru akan semakin menganggap kita buruk? Mungkin kami bias lulus. Tapi tidak bias lulus begini. Lulus tanpa ridho guru-guru kami.
Setiap hari, makin banyak perubahan yng kami alami, makin banyak guru yang mulai melihat kami, menerima salam kami, dll. Sudah beribu kali atau bahakan lebih kami mengucapkan maaf  ke semua guru. Sudah sepenuh tenaga kami berusaha bangun lebih pagi, berangkat ke masjid lebih cepat, mendapat 3 shaf pertama setiap sholat. Ya, itulah perjuangan.
Satu per satu guru mulai memaafkan kami. Rasanya bagai mendapatkan kembali orang tua yang telah hilang dari dunia. Akhirnya, kami dikumulkan kembali di mega hall dan membuat komitmen-komitmen angkatan. Perjanjiannya, jika kami melanggar 16 komitmen yang kami buat, guru-guru tidak akan menganggap kami sedikit pun. Sampai lulus nanti. Senyuman semangat mulai terpancar dari wajah kami. Semangat untuk lulus dengan akhlaqul karimah. Membuat guru-guru kami menjadi orang paling bahagia di dunia melihat kesuksesan kami. Dan perjalanan kami yang sebnarnya baru terasa.

Di pondok kami, angkatan ganjil selalu memeroleh peringkat 2 untuk UN di tingkat kota, sedangkan angkatan genap selalu memeroleh peringkat pertama. Dari angkatan pertama sampai angkatan keenam seperti itu. Kami angakatan ketujuh berjanji akan mematahkan mitos yang selalu menghantui kami, yang selalu diungkit-ungkit semua guru, yang selalu menjadi sakral.

Waktu terasa begitu cepat. Akhirnya pengumuman hasil ujian nasional tiba. Begitu bahagianya saat mengetahui sekolah kami mendapat rata-rata terbaik dan memecahkan rekor enam tahun. Lebih bahagia lagi ketika kami tahu, kami bias mematahkan mitos itu. Salah satu teman kami meraih peringkat pertama di tingkat kota, meskipunkami angkatan ganjil. Guru-guru dan terutama kepala sekolah terlihat sangat senang engan prestasi kami. Akhirnya kami dapat membuktikan, Converse Gracias bukanlah angkatan biasa. Masa-masa berjuang bersama angkatan tujuh merupakan hal yang sangat membahagiakan. Dan lebih bahagia lagi saat kesuksesan itu kami dapatkan. Akhirnya.
Wisuda. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. tetaplah menjadi Converse Gracias. Saudaraku yang tak pernah kulupakan. Saudaraku yang paling kusayangi. ayo kita sukses bersama kembeli, seperti layaknya dulu...